Category Archives: Berita

Analisis Hasil Evaluasi Peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Kementerian Kesehatan RI di Bapelkes Batam Tahun 2019

Tags :

Category : Karya Ilmiah

oleh: drg. Risa, MARS

Abstrak

Untuk menjaga kualitas penyelenggaraan pelatihan dasar Tahun 2019 ini berpedoman kepada Peraturan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil.

Penyelenggaraan pelatihan dimulai dari Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi. Evaluasi Penyelenggaraan Pelatihan, meliputi Evaluasi Peserta, Evaluasi Tenaga Pelatihan, dan Evaluasi Penyelenggaraan.

Karena keterbatasan waktu, maka analisis hanya dilakukan terhadap Peserta meliputi: Evaluasi Akademik, Evaluasi Aktualisasi, Evaluasi Sikap Perilaku, dan Evaluasi Penguatan Kompetensi Teknis Bidang Tugas serta Evaluasi Akhir.

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini berpedoman Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara No. 9 tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Bagi Widyaiswara sebagai dasar untuk meningkatkan kompetensi profesi widyaiswara melalui karya tulis ilmiah.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelatihan Dasar CPNS yang dilaksanakan di Bapelkes Batam selama Tahun 2019, meningkat dari …. Orang pada awal tahun 2019, menjadi sebanyak 800 di akhir tahun, dikarenakan adanya penambahan peserta Latsar bersumber PNBP.

Namun demikian kualitas pelatihan tetap harus di jaga sesuai dengan Peraturan Lembaga Administrasi Negara RI Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, apalagi Bapelkes Batam adalah Lembaga Diklat teraktrediasi sesuai Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 241/K.1/PDP.09/2017 tentang Penetapan Balai Pelatihan Kesehatan Batam Kementerian Kesehatan Sebagai Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah Terakreditasi.

Dengan mempertimbangkan ketersediaan waktu, kami sementara menganalisis Hasil Evaluasi Peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Kementerian Kesehatan RI di Bapelkes Batam Tahun 2019.

B. Dasar Hukum

Untuk menjaga kualitas Penyelenggaraan Pelatihan ini, seluruh Penyelenggaran diharuskan berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku, yakni:

  1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara;
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 tentang Manajemen PNS;
  3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan;
  4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Pelatihan Kesehatan di Lingkungan Badan PPSDM Kementerian Kesehatan;
  5. Peraturan Lembaga Administrasi Negara RI Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil;
  6. Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 2 tahun 2018 tentang Rincian Anggaran Biaya Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Tingkat I, II, III dan IV, Pelatihan Dasar CPNS Golongan II dan III, serta Pelatihan dasar CPNS Golongan I, II dan III yang diangkat dari Tenaga Honorer K1 dan K2;
  7. Surat Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Petikan Tahun Anggaran 2019 Nomor : SP DIPA-024.12.2.325151/2019, tanggal 5 Desember 2018, Satker Balai Pelatihan Kesehatan Batam;
  8. Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor:241/K.1/PDP.09/2017 tentang Penetapan Balai Pelatihan Kesehatan Batam Kementerian Kesehatan Sebagai Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah Terakreditasi;
  9. Keputusan Kepala Bapelkes Batam No. HK.02.03/2/1291/ 2019, tangal 9 April 2019 tentang Panitia Penyelengara Latsar CPNS Kemenkes Golongan III;
  10. Keputusan Kepala Bapelkes Batam No. HK.02.03/2/1301/ 2019, tangal 9 April 2019 tentang Panitia Penyelengara Latsar CPNS Kemenkes Golongan II.

C. Perumusan Masalah

Bagaimana hasil evaluasi peserta pelatihan dasar CPNS Goongan III Kemenkes RI di Bapelkes Batam pada Tahun 2019.

D. Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui sejauh mana evaluasi peserta pelatihan dasar CPNS Golongan III Kemenkes RI yang dilatih di Bapelkes Batam, dilihat dari aspek Evaluasi Akademik, Evaluasi Aktualisasi, Evaluasi Sikap Perilaku, dan Evaluasi Penguatan Kompetensi Teknis Bidang Tugas serta Evaluasi Akhir. Sebagai dasar penetapan kelulusan peserta Latsar CPNS tersebut.

II. KERANGKA TEORI

Evaluasi Pelatihan Dasar CPNS dilakukan melalui Evaluasi Peserta, Evaluasi Tenaga Pelatihan, dan Evaluasi Penyelenggaraan. Evaluasi Peserta Penilaian terhadap Peserta meliputi: Evaluasi Akademik, Evaluasi Aktualisasi, Evaluasi Sikap Perilaku, dan Evaluasi Penguatan Kompetensi Teknis Bidang Tugas serta Evaluasi Akhir.

A. Evaluasi Akademik

Penilaian akademik diberikan kepada peserta dengan bobot 20% untuk menilai pemahaman peserta pada Mata Pelatihan agenda nilai-nilai dasar PNS dan agenda kedudukan dan peran PNS dalam NKRI yang diberikan oleh pengajar.

Penilaian akademik diberikan secara terintegrasi setelah seluruh Mata Pelatihan agenda nilai-nilai dasar PNS dan agenda kedudukan dan peran PNS dalam NKRI dipelajari melalui ujian tulis sebanyak 5 JP pada sesi pembelajaran Evaluasi Akademik. Jenis soal pada ujian tulis Tipe A dapat berbentuk pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, jawaban singkat, essai, atau kombinasi diantaranya dengan bobot 10% dan ditambah soal tipe B berbentuk kasus dengan bobot 10%.

Penyelesaian soal kasus diukur melalui kualitas analisis pemecahan masalah yang ditunjukan melalui jawaban peserta dengan menggunakan indikator penilaian minimal sebagai berikut:

No ASPEK Bobot (10%)
Gol II Gol III
1 Mendeskripsikan rumusan kasus dan/atau masalah pokok, aktor yang terlibat dan peran setiap aktornya berdasarkan konteks deskripsi kasus. 3 % 2 %
2 Melakukan analisis terhadap bentuk penerapan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai dasar PNS, dan pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dalam NKRI oleh setiap aktor yang terlibat berdasarkan konteks deskripsi kasus. Dampak tidak diterapkannya nilai-nilai dasar PNS dan pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dalam NKRI berdasarkan konteks deskripsi kasus. 3 % 2 %
3 Mendeskripsikan gagasan-gagasan alternative pemecahan masalah berdasarkan konteks deskripsi kasus. 4 % 3 %
4 Mendeskripsikan konsekuensi penerapan dari setiap alternatif gagasan pemecahan masalah berdasarkan konteks deskripsi kasus. 3 %

Penyelenggaraan Evaluasi Akademik dilaksanakan oleh Lembaga Pelatihan Terakreditasi. Penilaian Evaluasi Akademik dengan menggunakan instrumen sebagaimana dimaksud dalam Formulir 4A dan Formulir 4B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Lampiran Peraturan Lembaga ini.

B. Evaluasi Aktualisasi

1. Penilaian Rancangan Aktualisasi

Penilaian rancangan aktualisasi dilakukan melalui presentasi seminar rancangan aktualisasi pada sesi evaluasi rancangan aktualisasi dengan indikator penilaian dan bobot sebagai berikut:

No INDIKATOR BOBOT (20%)
1 Kualitas Penetapan Isu 5 %
2 Jumlah Rencana Kegiatan 3 %
3 Kualitas Rencana Kegiatan 5 %
4 Relevansi Rencana Kegiatan dengan Aktualisasi 5 %
5 Teknik Komunikasi 2 %
Jumlah 20 %

a. Kualitas Penetapan Isu

Level (L) Kualitas Penetapan Isu adalah sebagai berikut:

L Uraian
4 Isu yang diangkat aktual dan berdampak pada unit kerja atau cakupan yang lebih luas.
3 Isu yang diangkat aktual namun hanya berdampak pada individu.
2 Isu yang diangkat tidak aktual.
1 Tidak dapat dikategorikan sebagai isu.

b. Jumlah Rencana Kegiatan

Level (L) Jumlah Rencana Kegiatan adalah sebagai berikut:

L Uraian
4 Terdapat lebih dari 3 kegiatan
3 Terdapat 3 kegiatan
2 Terdapat 2 kegiatan
1 Terdapat 0-1 kegiatan

c. Kualitas Rencana Kegiatan

Level (L) Kualitas Rencana Kegiatan adalah sebagai berikut:

L Uraian
4 Kegiatan yang dipilih relevan dengan penyelesaian isu, penyusunan tahapan tergambar jelas
3 Kegiatan yang dipilih relevan dengan penyelesaian isu, penyusunan tahapan tidak tergambar jelas
2 Kegiatan yang dipilih kurang relevan dengan penyelesaian isu, penyusunan tahapan tergambar dengan jelas
1 Kegiatan yang dipilih tidak relevan dengan penyelesaian isu, penyusunan tahapan tidak tergambar dengan jelas

d. Relevansi Kegiatan dengan Aktualisasi

Level (L) Relevansi Kegiatan dengan Aktualisasi adalah sebagai berikut:

L Uraian
4 Aktualisasi nilai-nilai dasar PNS, dan kedudukan dan peran PNS dalam NKRI yang mendasari kegiatan relevan dengan seluruh kegiatan yang telah ditetapkan
3 Aktualisasi nilai-nilai dasar PNS dan peran dan kedudukan PNS dalam NKRI yang mendasari kegiatan relevan dengan sebagian besar kegiatan yang telah ditetapkan
2 Aktualisasi nilai-nilai dasar PNS dan kedudukan dan peran PNS dalam NKRI yang mendasari kegiatan relevan dengan separuh kegiatan yang telah ditetapkan
1 Aktualisasi nilai-nilai dasar PNS dan kedudukan dan peran PNS dalam NKRI yang mendasari kegiatan relevan dengan sebagian kecil kegiatan yang telah ditetapkan

e. Teknik Komunikasi

Level (L) teknik komunikasi adalah sebagai berikut:

L Uraian
4 Peserta mampu menjelaskan rancangan aktualisasi dengan baik, dan mampu merespons pertanyaan
3 Peserta mampu menjelaskan rancangan aktualisasi dengan baik, tetapi kurang mampu merespons pertanyaan
2 Peserta kurang mampu menjelaskan rancangan aktualisasi dan kurang mampu merespons pertanyaan
1 Peserta tidak mampu mempresentasikan rancangan aktualisasi

Penilaian rancangan aktualisasi dengan menggunakan instrumen sebagaimana dimaksud dalam Formulir 5 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Lampiran Peraturan Lembaga ini, sedangkan rekapitulasi evaluasi rancangan aktualisasi dengan menggunakan instrumen sebagaimana dimaksud dalam Formulir 6 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Lampiran Peraturan Lembaga ini.

2. Penilaian Pelaksanaan Aktualisasi

Penilaian pelaksanaan aktualisasi dilakukan melalui presentasi seminar pelaksanaan Aktualisasi pada sesi evaluasi pelaksanaan Aktualisasi dengan indikator penilaian dan bobot sebagai berikut:

No Indikator Bobot (30%)
1 Kualitas Pelaksanaan Kegiatan 5 %
2 Kualitas Aktualisasi 20 %
3 Teknik Komunikasi 5 %
Jumlah 30 %

a. Kualitas Pelaksanaan Kegiatan

Level (L) Kualitas Pelaksanaan Kegiatan adalah sebagai berikut:

L Uraian
4 Peserta mampu melaksanakan seluruh kegiatan dan melahirkan gagasan kreatif dengan persetujuan pembimbing
3 Peserta mampu melaksanakan sebagian besar kegiatan dan melahirkan gagasan kreatif dengan persetujuan pembimbing
2 Peserta mampu melaksanakan separuh kegiatan dan melahirkan gagasan kreatif dengan persetujuan pembimbing
1 Peserta mampu melaksanakan sebagian kecil kegiatan dan melahirkan gagasan kreatif dengan persetujuan pembimbing

b. Kualitas Hasil Aktualisasi

Level (L) Kualitas Hasil Aktualisasi adalah sebagai berikut:

L Uraian
4 Aktualisasi nilai-nilai dasar PNS dan kedudukan dan peran PNS dalam NKRI yang mendasari kegiatan bermanfaat bagi stakeholder dan/atau pimpinan, berkontribusi terhadap pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi, serta memperkuat nilai organisasi
3 Aktualisasi nilai-nilai dasar PNS dan kedudukan dan peran PNS dalam NKRI yang mendasari kegiatan hanya bermanfaat bagi stakeholder atau pimpinan, tetapi kontribusinya terhadap pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi, serta memperkuat nilai organisasi tidak tergambar dengan jelas
2 Aktualisasi nilai-nilai dasar PNS dan kedudukan dan peran PNS dalam NKRI yang mendasari kegiatan terjadi, tetapi tidak terurai dengan jelas
1 Tidak terjadi Aktualisasi nilai-nilai dasar PNS dan kedudukan dan peran PNS dalam NKRI

c. Teknik Komunikasi

Level (L) Teknik Komunikasi pada saat presentasi seminar hasil Aktualisasi adalah sebagai berikut:

L Uraian
4 Peserta mampu menjelaskan hasil aktualisasi dengan baik dan mampu merespon pertanyaan
3 Peserta mampu menjelaskan hasil aktualisasidengan baik, tetapi kurang mampu merespon pertanyaan
2 Peserta kurang mampu menjelaskan hasil aktualisasidan kurang mampu merespon pertanyaan
1 Peserta tidak mampu mempresentasikan hasil aktualisasi

Penilaian pelaksanaan aktualisasi dengan menggunakan instrumen sebagaimana dimaksud dalam Formulir 7 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Lampiran Peraturan Lembaga ini, sedangkan rekapitulasi penilaian pelaksanaan aktualisasi dengan menggunakan instrumen sebagaimana dimaksud dalam Formulir 8 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Lampiran Peraturan Lembaga ini.

Di samping penilaian tersebut, Pembimbing (Coach dan Mentor) memberikan penilaian deskriptif mengenai kemampuan peserta Pelatihan Dasar CPNS selama proses pembelajaran aktualisasi di tempat kerja.

Penilaian deskriptif rancangan aktualisasi ini dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagaimana dimaksud dalam Formulir 9 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Lampiran Peraturan Lembaga ini, sedangkan untuk penilaian deskriptif untuk aktualisasi dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagaimana dimaksud dalam Formulir 10 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Lampiran Peraturan Lembaga ini.

Nilai indikator rancangan aktualisasi dan pelaksanaan aktualisasi yang diperoleh pada setiap level nilai ditetapkan melalui nilai konversi dari masing-masing level sebagai berikut:

Level Nilai
4 80,01 – 100
3 70,01 – 80,00
2 60,01 – 70,00
1 0 – 60,00

C. Evaluasi Sikap Perilaku

Evaluasi sikap perilaku dilakukan setelah peserta menyelesaikan pembelajaran agenda sikap perilaku bela negara oleh Penyelenggara Lembaga Pelatihan Terakreditasi dengan melakukan pemantauan sikap dan perilaku peserta selama Pelatihan dengan bobot 10% dengan menggunakan instrumen sebagaimana dimaksud dalam Formulir 3A dan Formulir 3B dan 3C yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Lampiran Peraturan Lembaga ini.

D. Evaluasi Penguatan Kompetensi Bidang Tugas

Evaluasi penguatan kompetensi teknis bidang tugas dilakukan setelah peserta menyelesaikan pembelajaran pada Kurikulum penguatan kompetensi teknis bidang tugas. Penyelenggaraan evaluasi dilakukan oleh Instansi Pemerintah asal peserta melalui unit yang mengelola pengembangan sumber daya manusia aparatur Instansi. Rekapitulasi perolehan nilai peserta pada Kurikulum penguatan kompetensi teknis bidang tugas diberikan bobot 20% dengan menggunakan instrumen sebagaimana dimaksud dalam Formulir 11 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Lampiran Peraturan Lembaga ini.

E. Evaluasi Akhir

Evaluasi akhir dilakukan untuk menentukan kualifikasi kelulusan peserta Pelatihan Dasar CPNS oleh Tim yang ditetapkan oleh Lembaga Pelatihan Terakreditasi yang menyelenggarakan Pelatihan. Susunan Tim adalah sebagai berikut:

  1. Pimpinan Lembaga Pelatihan Terakreditasi yang menyelenggarakan Pelatihan;
  2. Penanggung jawab Evaluasi Program;
  3. Tim Penjamin Mutu Lembaga Pelatihan Terakreditasi yang menyelenggarakan Pelatihan dan/atau Pejabat dari LAN;
  4. Coach; dan
  5. Penyelenggara sebagai anggota.

Pada setiap kriteria penilaian harus memenuhi batas nilai kelulusan (passing grade) dengan nilai di atas 70 (tujuh puluh). Apabila dari kriteria penilaian ada.


Inkontinensia Urine

Tags :

Category : Karya Ilmiah

Antara Bersalin Normal Atau Seksio Caesaria??

oleh: Maria Magdalena
Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine merupakan masalah kesehatan yang sering ditemui, akan tetapi seringkali tidak dilaporkan oleh pasien atau keluarganya, antara lain karena ketidaktahuan sehingga menganggap bahwa inkontinensia urin bukan merupakan masalah dan tidak memerlukan pengobatan. Pihak tenaga kesehatan juga banyak yang tidak memahami tatalaksana inkontinensia urin dengan baik bahkan tidak mengetahui bahwa inkontinensia urin merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi saluran kemih, dehidrasi, kelainan kulit, gangguan tidur, masalah psikososial seperti depresi, mudah marah, dan rasa terisolasi. 1

” Inkontinensia urin merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi saluran kemih, dehidrasi, kelainan kulit, gangguan tidur, masalah psikososial seperti depresi, mudah marah, dan rasa terisolasi .”

Inkontinensia urin oleh International Continence Society (ICS) didefinisikan sebagai ketidakmampuan mengontrol pengeluaran urin. Stres Inkontinensia Urin(SIU) merupakan gejala yang sangat sering terjadi pada wanita dewasa salah satu penyebabnya adalah karena melemah atau rusaknya otot dasar panggul yang bisa disebabkan karena kehamilan dan persalinan normal. Hampir 50% wanita yang pernah melahirkan akan menderita prolaps organ genitourinaria dan 40% disertai inkontinensia urin. Diantara kondisi ini stress inkontinensia urin (SIU) merupakan salah satu yang paling tinggi prevalensinya.1,2

Diketahui bahwa persalinan normal dapat menyebabkan perubahan neurologis pada dasar panggul yang menimbulkan efek langsung pada konduksi nervus pudendus, kekuatan kontraksi jalan lahir dan tekanan velositas penutupan uretra. Hal ini menyebabkan menetapnya angka kejadian SIU pada wanita setelah melahirkan.1

Rortveit et all (2003) menyatakan bahwa 20,7% dari wanita, mengalami SIU dan dianggap berat pada 8,7% kasus. Riwayat dari stres inkontinensisa urin biasanya tidak diketahui dengan baik dan dapat langsung terjadi pada lebih dari 30% kasus. Meskipun demikian wanita setelah persalinan pertama akan mengeluhkan stres inkontinensia urin 3-15%. Apabila hal tersebut terjadi sebelum kehamilan pertama, risikonya akan meningkat lagi selama kehamilan, setelah persalinan dan pada kemudian hari. Gejala gangguan saluran kemih ringan sering terjadi selama kehamilan dan stres inkontinensia urin terjadi sekitar 42% pada wanita hamil usia sekitar 36 minggu kehamilan, dan 45,4% usia 26 minggu pada kehamilan pertama Meskipun prevalensi gejalanya berkurang setelah persalinan, kehamilan sebagai risiko timbulnya gejala stres inkontinensia urin terjadi dikemudian hari.2

Tiga bulan setelah persalinan pertama stres inkontinensia urin frekuensinya dua kali lebih besar pada persalinan pervaginam dibandingkan persalinan seksio sesaria. Namun demikian dampak cara persalinan belum diketahui secara pasti. Menurut Saadia (2015) Wanita dengan persalinan normal atau dengan tindakan pervaginam dapat berisiko juga mengalami  inkontinensia urin dari pada yang menjalani operasi caesar. Namun dari hasil penelitian yang dilakukannya pada kelompok yang berbeda yaitu wanita dengan persalinan pervaginam, persalinan dengan tindakan dan operasi caesar didapati bahwa kejadian inkontinensia urine kecil. 2,3,4

Stres inkontinensia urin setelah kehamilan dapat disebabkan oleh kondisi yang multifaktor. Faktor risiko utamanya adalah umur, sebelum atau selama kehamilan pertama, persalinan yang lama dan persalinan pervaginam, trauma vagina. Cara persalinan melalui seksio saesaria dilaporkan juga kejadian stres inkontinensia urin setelahnya, sehingga dampak proses persalinan masih kontroversi dilaporkan.3,4,5

” Faktor risiko utamanya adalah umur, sebelum atau selama kehamilan pertama, persalinan yang lama dan persalinan pervaginam, trauma vagina.”

Dari hasil sistematis review yang dilakukan Tahtinen et al. 2016, untuk mengetahui efek jangka panjang dari persalinan dan inkontinensia urine diketahui bahwa ibu dengan persalinan normal dikaitkan dengan risiko hampir dua kali lipat dibandingkan dengan operasi caesar yang memiliki efek lebih rendah berhubungan dengan masalah berkemih.Penanganan lebih lanjut memang diperlukan pada kondisi-kondisi yang memang sudah mengganggu kualitas hidup seseorang.5,6

Sehingga Stress Inkontinensia Urine secara umum sebagai permasalahan yang secara alamiah akan dialami oleh wanita sebagai bagian dari kondisi fisiologis tubuh. Apapun proses persalinan yang dialami tentu dengan bijak dipilih sesuai dengan indikasi. Perubahan yang terjadi pada tubuh akan seiring dengan bertambahnya usia dan perlu disikapi dengan bijak. Dengan demikian diperlukan dukungan dari lingkungan sekitarnya termasuk pasangan dan keluarga dalam menyikapi permasalahan yang timbul saat persalinan normal atau seksio caesaria ditempuh, demi kualitas hidup yang tetap terjaga.

“Diperlukan dukungan dari lingkungan sekitarnya termasuk pasangan dan keluarga dalam menyikapi permasalahan yang timbul saat persalinan normal atau seksio caesaria ditempuh, demi kualitas hidup yang tetap terjaga.”

Sumber:

  1. Sudoyo A, dkk, 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Edisi V.  Interna Publishing. Jakarta.
  2. Serati M, Uccella S, Salvatore S. Stress Urinary Incontinence in Women of Childbearing Age. European Urological Review. Touchbriefing. 2008.
  3. Herrmann  V, Scarpa K, Palma PCR, Riccetto CZ. Stress urinary incontinence 3 years after pregnancy:correlation to mode of delivery and parity. Int Urogynecol J. 30 Oktober 2008. .
  4. Xavier F, Arnaud F, Caroline L, Louis BJ.Stress urinary incontinence 4 years after the first delivery: a retrospective cohort survey. Acta Obstetricia Et Gynecologica Scandinavica 2004;83(10):941-5.
  5. Saadia Z. Relationship between mode of delivery and development of urinary incontinence: A possible link is demonstrated. Int J Health Sci (Qassim). 2015 Oct; 9(4): 446–452.
  6. Tahtinen RM, Cartwright, et al. Long-term Impact of Mode of Delivery on Stress Urinary Incontinence and Urgency Urinary Incontinence: A Systematic Review and Meta-analysis. Eur Urol. 2016 Jul; 70(1): 148–158.

Upacara dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pacasila, 01 Oktober 2019 di Bapelkes Batam

Category : Berita

Pada hari selasa (1/10) telah dilaksanakan Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Lapangan Olahraga Bapelkes Batam. Dalam kesempatan ini Upacara di pimpin oleh Kepala Bapelkes Batam, Asep Zaenal Mustofa, SKM, M,Epid selaku Inspektur Upacara.

“Read More”

Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Nasional, 17 September 2019 di Bapelkes Batam

Category : Berita

Pada hari selasa (17/9) telah dilaksanakan Upacara Hari Kesadaran Nasional di Lapangan Olahraga Bapelkes Batam. Dalam kesempatan ini Upacara di pimpin oleh Kepala Seksi Diklat Fungsional, Dedi Supriadi, SAP, MM selaku Pembina Upacara. Upacara tersebut dihadiri oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Widyaiswara, Pegawai Bapelkes Batam baik yang PNS dan PPNPN dan para Pegawai dari Mitra Kerja Bapelkes Batam (Koperasi Kosada dan BKS).

“Read More”

Pembukaan Pembekalan Pelatihan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual di Puskesmas, Gelombang VI Tahun 2019 Bapelkes Batam

Tags :

Category : Berita

Pada senin (27/8) telah dilaksanakan pembukaan Pelatihan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual Gelombang VI oleh Kepala Balai Pelatihan Kesehatan Batam Kemenkes RI, Asep Zaenal Mustofa, SKM, M. Epid. Pembukaan pelatihan yang diselenggarakan di Auditorium Kepulauan Riau, Bapelkes Batam tersebut dihadiri oleh Pejabat Struktural, Tim Pengajaran dan Pendamping dari LANTAMAL IV Kota Tanjung Pinang, Widyaiswara Bapelkes Batam, Panitia dan Pengendali Pelatihan.

“Read More”

Pembukaan Latsar Golongan III Pemko Tanjung Pinang, Pemko Batam dan Pemkab Bintan Tahun 2019 Bapelkes Batam

Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Golongan III Pemko tanjung Pinang, Pemko Batam dan Pemkab Bintan dibuka oleh Walikota Tanjung Pinang, H. Syahrul, S.Pd di Auditorium Kepulauan Riau, Bapelkes Batam (26/8). Pembukaan pelatihan ini dihadiri oleh Walikota Tanjung Pinang, Kepala BKPSDM Kota Tanjung Pinang, Kepala BKPSDM Kota Batam, Kepala BKPSDM Kabupaten Bintan, Pejabat Struktural dan Widyaiswara Bapelkes Batam, Panitia, Pengendali Pelatihan, Fasilitator dan para Mentor Peserta Pelatihan.

“Read More”

Kalender Kegiatan

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1
3
Pelatihan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Gelombang 1
Pelatihan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Gelombang 1 @ Bapelkes Batam
Aug 3 – Aug 15 all-day
Kriteria untuk menjadi peserta dalam pelatihan tersebut adalah Pegawai Negeri Sipil Berijazah serendah-rendahnya Sarjana S1 / Diploma IV Kesehatan Pangkat serendah-rendahnya Penata Muda, Golongan Ruang III/a Telah melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan promosi kesehatan sekurang-kurangnya
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31